Opini Oleh: Mohtar Umasugi
SANANA,AM.com – Wisuda sarjana strata satu bukanlah sekadar seremoni akademik. Ia adalah penanda peradaban, momentum di mana ilmu pengetahuan, pengorbanan, doa, dan ketekunan bertemu dalam satu peristiwa sakral. Pada 20 Januari 2026, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula Maluku Utara kembali menggelar wisuda sarjana strata satu di halaman kampus yang sederhana, namun sarat makna dan sejarah perjuangan.
Di kampus inilah, mimpi-mimpi anak negeri dirawat. Bukan dalam kemewahan fasilitas, melainkan dalam kesungguhan intelektual dan ketulusan pengabdian. STAI Babussalam Sula tumbuh bukan karena limpahan anggaran, tetapi karena keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan dan kemuliaan manusia.
Dalam perspektif pendidikan tinggi, wisuda merupakan puncak dari proses panjang pembelajaran ilmiah. Clark Kerr menyebut perguruan tinggi sebagai the conscience of society penjaga nurani publik. Karena itu, wisuda tidak boleh dipahami sebatas pembagian gelar akademik, melainkan sebagai pelepasan tanggung jawab moral dan intelektual kepada para sarjana baru untuk hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan.
Mahasiswa STAI Babussalam Sula yang diwisuda telah melalui tahapan akademik yang tidak ringan: perkuliahan, penelitian, hingga ujian skripsi yang menguji kedewasaan berpikir, integritas ilmiah, dan ketangguhan mental. Dalam konteks kampus daerah dengan segala keterbatasannya, capaian ini adalah prestasi kolektif yang patut dihormati.
Paulo Freire menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses pembebasan (education as the practice of freedom). STAI Babussalam Sula menjalankan misi itu dengan caranya sendiri membebaskan generasi muda dari kebodohan struktural, keterpinggiran intelektual, dan kemiskinan kesadaran.
Di tengah segala keterbatasan itu, STAI Babussalam Sula sesungguhnya bukan hanya milik civitas akademika, melainkan milik seluruh masyarakat Kepulauan Sula. Kampus ini lahir dari rahim sosial masyarakat sula, dibangun oleh doa para orang tua, oleh harapan anak-anak negeri yang ingin mengubah nasib melalui pendidikan.
Karena itu, ajakan untuk kuliah di STAI Babussalam Sula tidak boleh dipahami sebagai promosi institusional semata, melainkan sebagai seruan kesadaran kolektif. Bahwa pendidikan tinggi bukan kemewahan, tetapi kebutuhan. Bukan milik segelintir orang, melainkan hak setiap anak negeri yang ingin bangkit dari keterbatasan.
Kuliah di STAI Babussalam Sula adalah pilihan yang dekat, terjangkau, dan bermakna. Kampus ini membuka ruang bagi anak-anak petani, nelayan, buruh, dan masyarakat kecil untuk bermimpi tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya. Di sini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga nilai keislaman, tanggung jawab sosial, dan etika pengabdian.
Sebagaimana ditegaskan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. STAI Babussalam Sula menuntun itu dengan kesederhanaan dan keyakinan bahwa setiap anak Sula memiliki potensi menjadi sarjana dan pemimpin masa depan.
Ajakan ini juga ditujukan kepada para orang tua: jangan ragu mempercayakan pendidikan anak-anaknya di kampus sendiri. Sebab mencintai daerah tidak cukup dengan retorika, tetapi dengan keberanian mendukung dan memperkuat lembaga pendidikan lokal.
Kepada para pemuda dan pemudi Sula, kuliah di STAI Babussalam Sula adalah bentuk ikhtiar memuliakan diri dan tanah kelahiran. Ilmu yang diperoleh bukan untuk menjauh dari kampung halaman, melainkan untuk kembali membangun negeri dengan nalar, iman, dan integritas.
Gelar wisuda ini bukan hanya perayaan akademik, tetapi juga kritik moral yang sunyi namun tegas. Di tengah keterbatasan, kampus ini membuktikan bahwa komitmen intelektual tidak bergantung pada besar-kecilnya anggaran, melainkan pada keberpihakan nilai dan keteguhan visi.
Dalam tradisi Islam, menuntut ilmu adalah ibadah. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” STAI Babussalam Sula berdiri di jalur ini, menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian, dan wisuda sebagai amanah peradaban.
Wisuda sarjana strata satu STAI Babussalam Sula Maluku Utara menegaskan satu hal penting: dari pinggiran negeri, api peradaban tetap menyala. Namun api itu tidak boleh dibiarkan dijaga sendirian oleh kampus dan civitas akademika.
Sudah saatnya pemerintah daerah membuka mata dan hati, hadir secara nyata, berpihak secara kebijakan, dan bertanggung jawab secara moral. Sementara itu, masyarakat pun memiliki peran strategis: mempercayai, mendukung, dan menyekolahkan anak-anaknya di kampus sendiri.
Sebab pada akhirnya, kualitas masa depan Kepulauan Sula tidak ditentukan oleh megahnya gedung kekuasaan, tetapi oleh kesungguhan kita merawat lembaga pendidikan yang melahirkan generasi berpikir, beriman, dan berkeadaban.
“Kepada seluruh mahasiswa jadilah kau juru penyelamatan dunia” ( Albert Einstein )



