Qatar dan Disrupsi Sepakbola

Penulis : Asghar Saleh

“Langkah pertama terhadap perubahan adalah menyadarinya, langkah kedua adalah menerimanya”.

Begitu pendapat Nathanael Braden, penulis kelahiran Kanada yang dikenal karena menuliskan banyak buku terkait psikologi – salah satunya : psikologi harga diri. Braden mengingatkan kita jika saat ini, kemanusiaan sedang bergerak bersama atau bisa jadi tertatih mengikuti disrupsi. Sebuah fenomena kekinian yang bersumbu pada perubahan yang masif, serba cepat dengan pola yang sulit tertebak.

Disrupsi dalam KBBI dipahami sebagai sesuatu yang tercabut dari akarnya. Ada situasi dimana terjadi pergerakan yang tak lagi linear. Perubahan yang serba cepat itu kadang melahirkan ketidakpastian, kompleks dan berujung ambiguitas. Disrupsi menguat seiring perkembangan tekhnologi informasi. Ia kini merambah banyak hal seperti pendidikan, bisnis dan pemasaran, kebudayaan dan juga olahraga.

Di Qatar, disrupsi tengah menampakkkan wajahnya yang mendominasi. Sejak awal, perhelatan Piala Dunia edisi ke 22 ini telah “melanggar” banyak ketentuan yang kaku dan serba otoritarian. Berbeda dengan Piala Dunia sebelumnya yang dilangsungkan saat jeda kompetisi di semua benua, Qatar 2022 justru berlangsung saat kompetisi sedang berjalan dengan ketat di berbagai negara. Pertimbangan cuaca panas dan badai gurun pasir memaksa FIFA menggeser jadwal ke akhir tahun. Meski begitu, cuaca panas tetap jadi kendala sehingga di semua venue, dipasang puluhan mesin pendingin berkapasitas besar.

Saya tak tahu alasan pasti otoritas sepabola dunia memilih Qatar. Yang paling mengemuka adalah negeri gurun ini memiliki kekayaan yang tak terbilang. Global Finance Magazine menyebut, negeri ini berada di urutan ke empat negera terkaya di dunia dengan PDB per kapita mencapai Rp. 753 juta. Qatar bertumpu pada produksi minyak dan gas bumi. Warganya mendapat pendidikan dan kesehatan gratis, hibah untuk perumahan dan jaminan pekerjaan. Bahkan di negara yang tak besar itu, air dan listrik untuk kebutuhan warga semuanya gratis.

Dengan kekayaan yang melimpah, berbagai stadion megah dengan desain kontemporer dibangun. Fasilitas penunjang tersedia gratis. Sejauh ini, belum terdengar keluhan apapun. Mungkin itu yang membuat Qatar melahirkan banyak kejutan. Tak hanya di lapangan hijau tetapi juga di luar urusan sepakbola. Dengan semua sumber daya yang dimiliki, Qatar konsisten dengan keyakinan dan kultur masyarakat yang selama ini tumbuh di tengah arus modernisasi. Mereka terbuka tetapi tak bisa bebas. Sejak awal, negara ini menolak kampanye LGBT. Qatar bahkan mampu menekan FIFA untuk mengikuti aturan mereka. Di sisi lain, FIFA juga “tak berdaya” saat banyak penonton mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk dukungan melawan Israel. Saat memastikan diri melaju ke babak selanjutnya, selebrasi pemain Maroko bahkan secara terbuka membawa bendera Palestina. Sesuatu yang “terlarang” di mata FIFA.

Bagi pemain dari negara manapun yang ngotot menggunakan ban kapten “one love”, FIFA akan memberikan kartu kuning. Ancaman kartu kuning di fase grup sangat mempengaruhi kelolosan sebuah tim jika punya nilai yang sama, gol diference yang sama dan head to head yang imbang. Tim dengan akumulasi hukuman terbanyak entah kartu kuning atau kartu merah akan dipotong poinnya sehingga peluang lolos menjadi kecil. Lihat bagaimana Meksiko terpaksa pulang kampung meski punya posisi yang sama dengan Polandia di fase grup. Karena itu, banyak kapten tim nasional terpaksa mengalah. Tak memakai ban kapten yang menjadi simbol dukungan untuk LGBT.

Disrupsi lain yang membuat Piala Dunia kali ini menarik adalah penggunaan bola “ajaib” bernama Al Rihla. Bola ini berbeda dengan pendahulunya. Dia dilengkapi dengan banyak panel berisi sensor gerak yang membaca dan mengirim signal ke layar monitor di room Video Assistant Referee. Sebelumnya VAR mengandalkan kamera pengawas di beberapa sudut untuk melihat kejadian di lapangan dan membantu wasit lebih obyektif dalam mengambil keputusan. Kali ini Al Rihla ikut berperan. Sangat dominan dan didukung akurasi yang presisi dan sulit dibantah. Saat Argentina tumbang secara mengejutkan dari Arab Saudi, VAR membatalkan tiga gol Messi dkk. Tim Tango juga terjebak sembilan kali offside – sesuatu yang jarang terjadi.

Gol kedua Jepang ke gawang Spanyol yang menuai kontraversi karena dari sudut pandang kamera televisi – bola telah melewati garis lapangan – sebelum umpan tarik pemain Jepang berujung gol. Tetapi ternyata VAR mengesahkan gol tersebut. Sensor Al Rihla mengirim akurasi jika bola masih “play in” atau bersentuhan dengan garis batas meski sangat tipis. Dalam partai lain di grup E saat Jerman melawan Kosta Rika, FIFA secara berani lakukan terobosan dengan mempercayakan tiga perempuan hebat menjadi pengadil di lapangan hijau. Adalah Stephanie Frappart – wasit perempuan asal Perancis – dan dua asisten wasit, Neuza Back dan Karen Diaz yang memimpin pertandingan di stadion Al Bayt. Ini pertama kalinya perempuan memimpin pertandingan olahraga yang dominan dimainkan laki-laki di ajang selevel Piala Dunia.

Di lapangan hijau yang mulus bak permadani Persia, dengan rumput yang hijau dan tak ada bekas kerusakan sedikitpun meski kaki para pemain saling beradu, kejutan Arab Saudi ternyata tak berlanjut setelah mereka menghentikan rekor 36 kali tak terkalahkan Argentina sejak Juni 2019. Skuad asuhan Herve Renard – pelatih asal Perancis yang sebelumnya sukses membawa Zambia (2012) dan Pantai Gading (2015) juara Piala Afrika – gagal melewati hadangan Polandia dan Meksiko. Begitu pula langkah Iran yang menghempaskan Wales tak berlanjut dan akhirnya tersisih di fase grup.

Meski begitu Qatar mencatat banyak perubahan besar dalam sejarah sepakbola dunia. Jepang yang bergabung di grup E secara luar biasa jadi juara grup. Samurai Biru mengalahkan dua tim juara Piala Dunia yang jadi kekuatan utama Eropa – Spanyol dan Jerman. Jerman bahkan harus pulang secara memalukan karena dua kali berturut-turut gagal di fase grup Piala Dunia.

Dalam laga terakhir di grup H. Korea Selatan tampil menggila saat mengalahkan juara Eropa Portugal. Ronaldo dkk dibuat malu oleh determinasi dan spirit “Taeguk Warriors”. Gegara kemenangan Son Heung-min dkk, juara dunia Uruguay harus tersingkir lebih awal. Di grup F, Maroko menjadi wakil Afrika yang tampil menjanjikan dengan sepakbola atraktif. Belgia – peringkat tiga FIFA dan semifinalis PIala Dunia empat tahun lalu dikalahkan dengan skor meyakinkan. Belgia yang diunggulkan berkemas pulang lebih awal. Saingan berat lainnya, finalis Russia 2018 – Kroasia, ditahan imbang. Maroko jadi juara grup. Deretan sejarah akan makin panjang jika kita memasukkan nama Amerika Serikat yang lolos ke babak 16 besar dari grup B atau Australia yang menyingkirkan Denmark dan Tunisia di grup D.

Lolosnya tiga tim Asia, dua tim Afrika dan Amerika Serikat ke babak knock out Piala Dunia kali ini memberi garansi bahwa sepak bola telah berkembang melintasi batas geografis. Tak ada lagi hegemoni Eropa atau Amerika Latin. Dalam buku Disruption, Rhenald Kasali menyebut, disrupsi atau perubahan yang serba cepat itu berkaitan erat dengan pola pikir yang terbuka dan bertumpu pada tiga elemen penting ; produktif, solutif dan kreatif. Mindset ini butuh respons yang cepat dan terukur. Begitu juga perubahan sepak bola. Dulu, sepak bola boleh dikata mengikuti naluri dan kultur yang tradisional. Bakat dan kekuatan fisik yang alami jadi factor dominan seorang pesepakbola direkrut. Belum ada kompetisi seketat sekarang.

Saat ini, bakat saja tidaklah cukup. Pemain harus “bersekolah” di akademi sepakbola secara berjenjnag sesuai kelompok umur. Aspek fisicly semisal kekuatan otot diukur dengan indikator medical yang terkoneksi dengan asupan nutrisi. Fasilitas latihan berbasis scientific. Di sana attitude pemain juga dibentuk agar profesional. Semua serba terukur dan pasti. Technology jadi bagian dari pengembangan sepakbola modern. Promosi dan bisnis megikuti. Sepakbola adalah industri yang beromzet trilyunan. Jika berhubung dengan Piala Dunia dimana pemain akan membela negaranya, nasionalisme dan “nation pride” jadi sumbu ledak yang tak mudah dipadamkan.

Kita tak tahu di babak “knock out” mulai malam ini, apakah disrupsi sepakbola masih berlanjut atau tidak, tapi saya yakin perubahan sepakbola yang dinamis sedang berlangsung di Qatar. Di babak 16 besar, dari delapan tim yang pernah juara Piala Dunia, tersisa hanya lima negara saja. Brazil dan Argentina mewakili kekuatan Amerika Latin. Sementara Eropa diwakili Perancis, Spanyol dan Inggris. Belanda yang tiga kali jadi finalis berpeluang menghapus dahaga juara. Jika melihat kualitas permainan Jepang, Korea Selatan, Maroko dan Senegal, rasanya tak salah jika kita berharap akan ada juara dunia baru kali ini. Beberapa orang mungkin tidak menerimanya tetapi sebagaimana kata Elon Musk ; Beberapa orang mungkin tak menyukai perubahan tetapi anda harus memilihnya jika pilihan lainnya adalah bencana.

spot_imgspot_img

ADVERTORIAL

ASPIRASI NEWS

ASPIRASI TERNATE

POLMAS

NASIONAL

DUNIA