Kadis DP3A Minta Pelaku Kekerasan Seksual Dihukum Setimpal Kasus Pembunuhan

 

TERNATE,AM.com – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Maluku Utara Musrifah Alhadar menegaskan hukuman bagi orang dewasa yang melakukan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan harus diberikan hukuman setara dengan hukuman pembunuhan.

“Sebab pelaku telah membunuh karakter korban dan itu dibawah sampai mati,” tandas Musrifah Alhadar,” Senin (18/10/2022).

Lantaran kasus kekerasan terhadap perempuan dari Tahun 2021 hingga 2022, menurut dia, dari Bulan Januari hingga Oktober 2022 terdapat 63 kasus. Sedangkan tahun 2021 tercatat 100 lebih kasus.

“Kalau dilihat kasus di 2022 mulai menurun dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebanyak 100 lebih kasus,” ungkapnya.

Menurunnya kasus kekerasan terhadap perempuan ini lantaran korban sudah beranikan diri melaporkan ke penegak hukum atau di DP3A Provinsi dan Kabupaten/Kota.

“Berani melaporkan itu sudah satu langkah baik karena dulunya dianggap itu aib keluarga tapi saat ini sudah banyak korban yang melaporkan,” ucapnya.

Ia menyampaikan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi dan mengedukasi pemahaman tentang kekerasan. Satu sisi, jika kasus kekerasan terhadap perempuan di Maluku Utara tinggi. Mungkin saja, korban sudah melaporkan ke penegak hukum, karena laporan yang tercatat itu kebanyakan terlapor.

“Kita berharap sampai Desember tidak lebih karena sudah ada kesadaran masyarakat. Mari kita sama-sama konsen terhadap hal yang tidak seharusnya kita lakukan apalagi pelakunya itu orang dewasa kasian anak kita,” ingatnya.

Selain itu, ia menyinggung kekerasan seksual di Kabupaten Halmahera Timur baru-baru ini terhadap anak perempuan berusia 9 (sembilan) tahun dan pelakunya juga dibawah umur yang masih siswa SMA.

“Jadi semaksimal mungkinlah penanganan kasus tersebut mengikuti undang-undang perlindungan anak,” cetusnya.

Ia meminta kepada keluarga atau orang tua agar mampu memberikan yang terbaik buat anak, terutama memberikan perhatian dan tetap kontrol.

“Supaya kasus ini tidak terjadi atau jangan terulang karena sangat menyayangkan masa depan korban dan masa depan pelaku yang masih dibawah umur bisa menjalankan hukumannya,” ujarnya.

Ia mengaku, kasus seksual ini mendominasi di Maluku Utara dalam hal kekerasan terutama perempuan dan anak. Padahal, DP3A selalu melakukan sosialisasi atau menyampaikan secara langsung.

“Tolonglah melakukan sesuatu dipikirkan dulu terkait dengan efek-efeknya. UU saat ini lebih keras bahwa dengan ada satu bukti itu sudah dikenakan hukuman sesuai UU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual),” pungkasnya.

spot_imgspot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

ADVERTORIAL

ASPIRASI NEWS

ASPIRASI TERNATE

POLMAS

NASIONAL

DUNIA