spot_imgspot_img

Menariknya Seminar Habar Sua

Reporter: Nai Am

SANANA,AM.com-Pelaksanaan Festival Tanjung Waka (FTW) yang berlangsung di Desa Fatkauyon, Kecamatan Sulabesi Timur, tidak hanya menyita perhatian publik dengan adanya keindahan alam maupun antraksi budaya, dan kesediaan pangan lokal. Lebih menarik lagi, ada seminar Habar Sua (Bacarita Sula) yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kepulauan Sula.

Di dalam seminar tersebut, para narasumber memaparkan materi tentang Madu Sula, Cokelat Sula, dan Budaya Orang Sula (bahasa daerah Sula).

Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Sula (Kadiknas Kepsul), Rifai Haitami menyampaikan, seminar yang dilakukan tujuannya untuk mendorong adat dan budaya Orang Sula, terutama pengembangan bahasa Daerah Sula.

“Masyarakat berkeinginan agar bagaimana bahasa daerah Sula didorong untuk masuk dalam kurikulum lokal di satuan pendidikan, baik tingkat TK, SD, maupun SMP. Hal ini juga sudah didorong oleh DPRD Sula,” jelas Rifai saat diwawancarai. Selasa, (29/3/2022).

Kadiknas Kepsul, Rifai Haitami. (Foto; am)

Menurut Rifai, bahasa daerah merupakan identitas orang Sula. Tentunya perlu dilestarikan dan dijaga sampai generasi yang akan datang, sehingga tidak terancam punah atau hilang.

Selain itu, Rifai pun menyentil baju adat Sula baik untuk lelaki maupun wanita yang belum ditetapkan, begitu juga sejarah Sula yang belum dibukukan.

“Ini menjadi tugas besar kita semua. Selesai dari kegiatan FTW ini, Diknas dan Dinas Pariwisata bekerja sama untuk membentuk Tim Penelitian adat Daerah (TPAD) dari Universitas Khairun untuk menyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Sula. Setelah dibentuk TPAD, selanjutnya akan dilakukan kajian pada empat suku besar di Sula,” ungkapnya.

Sedangkan terkait dengan kakau Sula, kata Rifai, dari Dinas Pertanian Sula masih banyak kekurangan tenaga penyuluh, khususnya pada penanaman kakau. Padahal tanaman kakau di Sula saat ini menjadi tanaman yang fantastis untuk dikonsumsi oleh masyarakat, maka ini juga menjadi rekomendasi untuk didorong dan diperhatikan.

“Kami berharap dengan adat dan budaya di Kepulauan Sula yang belum tertulis dan menjadi perbedaan persepsi ini, secepatnya ditetapkan menjadi PPKD Sula agar bisa digunakan dalam hal adat dan budaya,” tutupnya. (Am)

spot_imgspot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

ASPIRASI NEWS

ADVERTORIAL

ASPIRASI SOFIFI

ASPIRASI TERNATE

ADVERTORIAL