Kearifan Lokal Sebagai Media Komunikasi Membangun Peradaban Unggul

oleh: Wiranto Fihri*

Kearifan lokal adalah warisan masa lalu yang berasal dari leluhur, yang tidak hanya terdapat dalam sastra tradisional (sastra lisan atau sastra tulis) sebagai refleksi masyarakat penuturnya, tetapi terdapat dalam berbagai bidang kehidupan nyata, seperti filosofi dan pandangan hidup, kesehatan, dan arsitektur.

Dalam dialektika hidup-mati (sesuatu yang hidup akan mati), tanpa pelestarian, kearifan lokal pun suatu saat akan mati. Bisa jadi, nasib kearifan lokal mirip pusaka warisan leluhur, yang setelah sekian generasi akan lapuk dimakan rayap. Sekarang pun tanda pelapukan kearifan lokal makin kuat terbaca.

Kearifan lokal acap kali terkalahkan oleh sikap masyarakat yang makin pragmatis, yang akhirnya lebih berpihak pada tekanan dan kebutuhan ekonomi.

Di Indonesia yang kita kenal sebagai Nusantara, kearifan lokal itu tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga membentuk nilai budaya yang bersifat nasional. Sebagai contoh, hampir di setiap budaya lokal di Nusantara dikenal kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong, toleransi, etos kerja, dan seterusnya.

Pada umumnya etika dan nilai moral yang terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra lisan (antara lain dalam bentuk pepatah dan peribahasa, folklore), dan manuskrip.
Walaupun ada upaya pewarisan kearifan lokal dari generasi ke generasi, tidak ada jaminan bahwa kearifan lokal akan tetap kukuh menghadapi globalisasi yang menawarkan gaya hidup yang makin pragmatis dan konsumtif.

Secara faktual dapat kita saksikan bagaimana kearifan lokal yang sarat kebijakan dan filosofi hidup nyaris tidak terimplementasikan dalam praktik hidup yang makin pragmatis. Korupsi yang merajalela hampir di semua level adalah bukti nyata pengingkaran terhadap kearifan lokal yang mengajarkan “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”; “hemat pangkal kaya”.

Kearifan lokal hanya akan abadi kalau kearifan lokal terimplementasikan dalam kehidupan konkret sehari-hari, sehingga mampu merespons dan menjawab arus zaman yang telah berubah. Kearifan lokal juga harus terimplementasikan dalam kebijakan negara, misalnya dengan menerapkan kebijakan ekonomi yang berasaskan gotong royong dan kekeluargaan sebagai salah satu wujud kearifan lokal kita.

Untuk mencapai itu, perlu implementasi ideologi negara (yakni Pancasila) dalam berbagai kebijakan negara. Dengan demikian, kearifan lokal akan efektif berfungsi sebagai senjata tidak sekadar pusaka yang membekali masyarakatnya dalam merespons dan menjawab arus zaman.

Kearifan Lokal dan Moralitas; Konteks Masyarakat Kini

Membangun bangsa dan negeri ini ke depan, tidak boleh tidak, harus bertumpu pada konteks masyarakat kita hari ini, dimana tengah menderita penyakit moral yang cukup akut. Layaknya penyakit akut atau kronis, mesti membutuhkan penanganan yang cukup hati-hati, karena jika terjadi kesalahan penanganan, sekecil apapun kesalahan itu, maka akan membuat penyakit itu menjadi semakin parah, bahkan sangat dimungkinkan mengantar pada kematian penderitanya.

Tugas pokok pilar-pilar bangsa di negeri ini, semakin mendapatkan tantangan yang lebih kompleks. Musuh kuatnya bukanlah ancaman pihak-pihak luar dengan perlengkapan senjata yang lengkap dan canggih, namun justru datang dari diri bangsa sendiri dengan senjata kasat mata berupa virus penghancur kepribadian dan moralitas bangsa yang sangat berbahaya.

Sekitar puluhan tahun terakhir, kita sempat dibuat kaget dengan kondisi riil bangsa dan negeri tercinta ini. Sebuah bangsa besar, yang dulu sempat menjadi tumpuan kebangkitan di wilayah Asia Tenggara ini, berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi bangsa yang paling terpuruk di belahan bumi Asia. Mentalnya kerdil karena menyangga beban ketidaktulusan dan ketidakjujuran yang cukup akut, hingga membuahkan berbagai perangai rendah; korup, kejam, dan nyaris tidak beradab. Alam pikirnya cenderung gelap, selalu negatif, hingga memicunya selalu berburuk sangka, bernyali pengecut, dan amat mudah putus asa. Sementara, tindakannya membabi buta hingga melahirkan berbagai kerusakan dan kekacauan.

Kearifan Lokal adalah sebuah media (sarana) yang dianggap cukup efektif dijadikan penghubung bagi siapapun untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada semua pihak, terutama para pelaku dan pecinta kearifan itu sendiri. Komitmen kita untuk mengambil peran di dalam seni budaya, jelas akan membuahkan keniscayaan bagi lahirnya sejuta kemanfaatan bagi terciptanya masyarakat negara-bangsa yang lebih baik.

Dalam teori Dewey, 1992:15) disebutkan bahwa, fungsi global simbolik kohesi akan mengangkat kebudayaan rakyat menuju tradisi yang lebih tinggi.

Permasalahannya adalah terletak pada kesiapan dan kehikmatan kita sendiri di dalam peran budaya yang dimainkan. Kesiapan merujuk pada pemahaman terhadap budaya yang akan digelutinya secara kontekstual, sehingga pada gilirannya membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkannya sesuai dengan konteks seni budaya yang bersangkutan, agar tidak tercerabut dari karakter asli masyarakatnya, di samping juga tidak out of date dengan perkembangan kekinian. Sementara, kehikmatan, merujuk pada konsistensi masyarakat dalam menggeluti peran dalam dunia seni budaya itu.

Konsistensi juga momok kecermatan kita di dalam melihat setiap peluang untuk ”berkreasi cerdas” berbasis perkembangan aktual dan karakter asli seni budaya yang diperankannya.

Melalui pemahaman yang mengakar dan ”kreasi cerdas” di dalam kearifan lokal, pesan-pesan penting akan sangat mudah disampaikan dan dibumikan ke dalam sistem kepribadian bangsa.

Dan karena itu, denyut kehadiran pelaku seni budaya akan dirasakan semakin nyata di tengah-tengah masyarakat, yang faktanya, tengah merindukan kehadiran ”sang pelopor moralitas” untuk mampu menjadi pilar yang kokoh dalam memberikan teladan bagaimana seharusnya menjadi bangsa Indonesia yang baik dan beradab.

Kearifan lokal akan menjadi media komunikasi yang efektif untuk membangun masyarakat ketika dikemas dengan baik, karena bisa terjadi anomali budaya sewaktu-waktu. Kuntowijoyo (1999: 7) menyatakan bahwa kebudayaan dapat menjadi tidak fungsional jika simbol dan normanya tidak lagi didukung oleh lembaga-lembaga sosialnya, atau oleh modus organisasi sosial dari budaya itu. Kontradiksi-kontradiksi budaya dapat terjadi sehingga dapat melumpuhkan dasar-dasar sosialnya.

Daniel Bell, misalnya, telah melakukan kritik terhadap kontradiksi budaya dalam masyarakat kapitalis di Amerika. Hal yang sama juga dilakukan Read (1970: 128), yang melihat gejala tidak adanya integrasi kultural dalam masyarakat kapitalis, karena metode produksi kapitalis tidak timbul oleh pilihan yang merdeka, melainkan oleh keharusan ekonomis.

Membangun Masyarakat melalui Komunikasi Berbasis Kearifan Lokal
Di dalam logika heteroginitas (khususnya unsur budaya etnik di Indonesia), tidak semua kearifan lokal di negeri ini selaras dengan jati diri kita sebagai negara bangsa yang inklusif-apropriatif. Pilar-pilar kehidupan, misalnya keluarga, lembaga pendidikan (formal dan non formal), dan seterusnya perlu senantiasa memanfaatkan nilai dan perilaku budaya lokal sebagai pedoman untuk menyikapi dan berinteraksi dengan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ilmu dan teknologi, serta perkembangan masyarakat lainnya yang terus berkembang, perlu disikapi seagai ruang-ruang perbedaan yang perlu diinternalisasi secara selektif tanpa merasa rendah diri terhadap capaian yang ditampilkan oleh hal-hal yang berbeda dari diri kita.

Sementara itu, keangkuhan diri atau memandang rendah terhadap hal-hal yang berbeda, juga tidak tepat bagi penerapan prinsip kesetaraan. Karenanya, diperlukan kesediaan untuk memberi ruang penyerapan unsur-unsur yang berbeda bagi pengembangan diri.

Di Indonesia, komunikasi melalui budaya telah terbukti mampu melahirkan harmoni sosial. Sementara harmoni sosial sendiri menjadi pilar utama untuk membangun sebuah peradaban. Tanpa mengabaikan pemahaman yang berbeda, diantara kearifan lokal yang menunjukkan nilai harmoni diantaranya adalah bahasa, simbol dan lainya. Kata-kata yang fasih, diucapkan pada ruang dan waktu yang tepat akan menyenangkan hati. Kata Rasulullah Saw: ”Man kana yu’minu billah wal yaumil akhir falyaqul khairan au liyashmut”, ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka bicaralah yang baik, jika tidak mampu (bicara yang baik), maka diamlah.”

Bicara yang baik, bisa dimaknai secara luas sebagai komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik berarti komunikasi yang efektif, berdaya guna tinggi untuk menebar kemanfaatan.

Kearifan lokal (local wisdom) memiliki karakteristik yang cukup efektif untuk menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Nilai strategis kearifan lokal dalam mewujudkan peradaban yang unggul, dengan demikian, menjadi sebuah keniscayaan.

Efektifitas kearifan lokal dalam mengambil peran pembangunan masyarakat disebabkan terutama oleh komunikasi strategis yang disuguhkannya, diantaranya melalui bahasa simbol yang cukup efektif. (0n9)

*Penulis adalah aktifis lingkungan dan sosial budaya, terlibat aktif dalam organisasi PMII.

spot_imgspot_img

ADVERTORIAL

ASPIRASI NEWS

ASPIRASI TERNATE

POLMAS

NASIONAL

DUNIA