TOPMENT: Ikhtiar Merawat Generasi

Reporter: Ong Rasai

TIDORE,AM.com – Menjaga konsistensi untuk terus eksis melakukan kegiatan bukanlah hal yang mudah, apalagi kegiatan itu melibatkan banyak orang dengan hanya bermodalkan semangat.

Dan Tomagoba Open Tournament (TOPMENT) adalah salah satu event sepak bola dari sedikit yang mampu merawat konsistensi itu hingga kini, TOPMENT yang dimotori oleh pemuda pemudi di Kelurahan Tomagoba Kota Tidore Kepulauan ini telah berlangsung sejak tahun 2000 atau sudah 22 tahun.

Panitia TOPMENT sudah lintas generasi, mereka yang terlibat pada TOPMENT edisi pertama telah memiliki anak yang kini juga telah terlibat aktif sebagai panitia pelaksana pada TOPMENT usia 23 edisi tahun 2022.

Nama H. Husain Kasim (alm) menjadi legenda dalam sejarah TOPMENT, Husain yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Nuku ini bersama banyak sahabat di lingkungannya memulai ikhtiar besar untuk membentuk generasi muda Tomagoba yang lebih baik.

H. Husain Kasim (alm) inisiator awal pelaksanaan TOPMENT. (Foto: istimewa)

Saya berkesempatan melakukan wawancara dengan dua orang tokoh Tomagoba yang pernah menjadi motor penggerak TOPMENT, sebelum sampai pada angkatan saat ini yang merupakan angkatan keempat.

Mereka adalah Mohtar Djumati dari angkatan kedua dan Suhardi dari angkatan ketiga. Keduanya meneruskan semangat pelaksanaan TOPMENT untuk membina generasi muda yang lebih berkualitas.

Pembinaan Generasi Tomagoba

“TOPMENT ini sejak awal tujuannya untuk membina anak-anak muda kita menjadi lebih baik, dari segi pengembangan bakat maupun mental spiritual,” kata Mohtar Djumati.

Mohtar Djumati, angkatan kedua pelaksanaan TOPMENT. (Foto: istimewa)

Lelaki yang biasa disapa Ko Ovos ini menjelaskan, anak muda  perlu diarahkan untuk membuat kegiatan positif, sehingga dengan itu mereka disibukkan dan meninggalkan kegiatan  yang negatif.

“Alhamdulillah dengan kegiatan ini kita rasakan betul anak muda punya wadah untuk menyalurkan kegiatan yang positif, dan dukungan luar biasa dari tokoh masyarakat dan warga Tomagoba,” ungkap wakil ketua DPRD Kota Tidore Kepulauan ini.

Sementara itu Suhardi menambahkan, Tomagoba pernah punya stereotip buruk di Tidore, sebagai kampung yang anak mudanya banyak melakukan hal-hal negatif dan dibenci oleh kampung lain.

“Dulu orang kenal Tomagoba itu kalau bukan suka berkelahi ya suka minum, makanya ini yang coba dirubah, awalnya hanya pertandingan gawang sedang dan bola dangdut bahkan pertandingan antar RT hingga menjadi seperti sekarang ini dengan kualifikasi usia,” tambah Jojo Dikos sapaan akrab Suhardi.

Suhardi/Jojo, angkatan ketiga TOPMENT. (Foto: Istimewa)

Jojo bilang, di TOPMENT anak muda belajar soal kepemimpinan, kerja sama tim, bertanggungjawab, disiplin serta bagaimana mengorganisir dan menyukseskan kegiatan.

“Banyak anak muda yang terlibat dalam kegiatan ini baik di kepanitiaan maupun di tim sepakbola, dan ini menjadi wadah mereka belajar, pernah ada hukuman jika tidak terlibat dalam kegiatan sosial atau tidak menunaikan sholat maka tidak akan dipakai saat turun bermain,” ujar Suhardi yang juga Dosen di Fakultas Pertanian Peternakan di Universitas Khairun Ternate ini.

Menurutnya, pemuda Tomagoba melalui tim sepakbola Etnik 71 sebelum berubah menjadi Garuda Tomagoba, pernah menjadi juara di berbagai turnamen baik di Tidore maupun di luar daerah.

“Kami pernah 2 kalian menjadi juara di Gurabati Open Tournament, juga bermain di Ternate dan Weda,” ungkap mantan Ketua Pemuda Tomagoba ini.

“Dari pembinaan di TOPMENT dan klub ini banyak melahirkan pemain-pemain hebat dari Tomagoba yang dipakai oleh klub klub lain di luar daerah, dan sudah banyak yang berhasil,” tambah Ko Ovos.

Pembangunan Stadion Tomagoba

Kelurahan Tomagoba memiliki stadion yang cukup baik, karena telah memiliki tribun utama, tribun timur,  tribun utara dan sebagian tribun selatan, yang diperoleh dari kelincahan melobi.

“Tribun utama dan timur itu dibuat oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Maluku Utara, yang dananya sekitar Rp 400 juta, selain itu juga atas dukungan pemerintah Kota Tidore Kepulauan,” ungkap Jojo.

Menurutnya, konsistensi melakukan kegiatan hampir setiap tahun lah yang menjadi kunci, sekaligus membentuk kepercayaan diri agar memperjuangkan perbaikan stadion.

“Perjalanan TOPMENT ini memang beberapa tahun sempat terhenti, namun kepedulian bersama yang mampu membangkitkan kembali dan semoga kedepannya menjadi lebih baik,” harapnya.

Sementara itu, Ko Ovos menyebutkan kepedulian terhadap generasi muda dan sepak bola menjadi perhatian serius baginya, hal ini ditunjukan dengan memperjuangkannya di lembaga DPRD.

“Untuk Stadion Tomagoba, insyaallah tahun ini dianggarkan untuk pembangunan tribun utama menjadi dua lantai, dan untuk SBB juga sudah kita dorong agar mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah,” ujar Ketua DPW NasDem Kota Tidore Kepulauan ini.

Ko Ovos berkomitmen untuk menjadikan TOPMENT masuk dalam kalender tahun yang wajib menjalankan pertandingan bola di Kota Tidore Kepulauan.

Apresiasi

Pelaksanaan TOPMENT berdampak besar bagi banyak pihak, kegiatan yang tadinya bertujuan pembinaan generasi muda di Tomagoba ini rupanya menjadi rumah besar bagi banyak klub sepakbola.

Para pemain membutuhkan pertandingan untuk mengasah skill dan para perangkat pertandingan membutuhkan jam terbang dalam bertugas.

Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Abubakar memberikan apresiasi kepada Panitia TOPMENT yang konsisten melaksanakan pertandingan.

“TOPMENT ini termasuk yang paling konsisten melaksanakan pertandingan, sebagai ketua Askot sangat mendukung pertandingan ini untuk pengembangan sepakbola di Kota Tidore Kepulauan,” ungkap Muhammad Abubakar.

Menurutnya, TOPMENT sejauh ini patuh dengan standar pelaksanaan pertandingan yang dibuat oleh PSSI, sehingga dia berani mengeluarkan rekomendasi terselenggaranya kegiatan ini.

“PSSI memiliki standar khusus dalam pertandingan, yaitu adanya perangkat pertandingan, keamanan dan perlengkapan kesehatan yang termasuk juga menyiapkan ambulance,” ungkap ketua KNPI Kota Tidore Kepulauan ini.

Apresiasi juga disampaikan oleh para pelaku usaha, yang mendapatkan keuntungan dari terselenggaranya pertandingan, banyak yang menjajal makanan dan minuman saat pertandingan.

Mulai dari kios di samping gerbang utara, para penjual kerupuk kasbi gula, kacang rebus dan jagung rebus. “Alhamdulillah dengan kegiatan ini kami punya penghasilan tambahan dan membantu perekonomian keluarga,” ungkap salah satu penjual.

Tantangan

Seperti pelaksanaan kegiatan lainnya, selalu saja ada tantangan yang menghambat suksesnya kegiatan, namun kekompakan panitia dalam melakukan kegiatan bisa berhasil.

Ketua Panitia Tomagoba Open Turnament, Sofyan Toduho

Ketua Panitia TOPMENT U-23 tahun 2022, Sofyan Toduho menjelaskan lika liku persoalan yang menjadi kerikil penghambat.

“Dengan anggaran TOPMENT kami mendukung sejumlah wasit untuk mengambil lisensi mereka, namun pada hajatan ini mereka enggan berpartisipasi karena persoalan honor,” sesalnya.

Selain itu, dia rasakan betul besarnya anggaran yang harus dikeluarkan untuk suksesnya TOPMENT U-23 tahun 2022, sehingga dikhawatirkan ajang yang diagendakan tahunan ini akan terhenti.

“Jangan sampai kedepannya orang takut buat pertandingan karena besarnya anggaran, sehingga perlu diperjelas standar honorium untuk liga antar kampung dan profesional, apalagi TOPMENT ini tujuannya untuk pembinaan pemain muda,” ujar lelaki yang akrab dipanggil panggil Vhaldo ini.

Tak lupa Vhaldo menghaturkan banyak terima kasih kepada para sponsorship yang dengan kerelaannya memberikan dukungan.

“Terimakasih untuk bapak ibu yang dermawan, dan khusus bapak Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Senin yang membantu menanggung total hadiah Rp 75 juta, semoga kedepannya pelaksanaan TOPMENT terus berlangsung dan makin baik lagi,” harapnya. (0n9)

spot_imgspot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

ADVERTORIAL

ASPIRASI NEWS

ASPIRASI TERNATE

POLMAS

NASIONAL

DUNIA