Modus Santunan, Panwas Kota Ternate Telusuri 3 Saksi Penerima Uang dari Cagub AHM

Reporter : Dirman Umanailo

 

TERNATE, AM.comAgar tidak terjerat pelanggaran pidana politik (politik uang) pasangan calon gubernur dan wakil gubernur peserta pemilihan gubernur kerab kali memainkan berbagai cara untuk berkilah dari pengawasan lembaga pengawas pemilihan kepala daerah (Pilkada). Dari bagi-bagi sembako, kunjungan ke pasar dan memberikan santunan anak yatim.

Alih-alih menyalurkan santunan ke anak yatim (belum cukup umur sebagai pemilih) di beberapa panti asuhan untuk menghindar terjerat politik uang (money politic), tim pasangan calon gubernur dan wakil gubernur provinsi Maluku Utara Ahmad Hidayat Mus dan Ruvai Umar (AHM-RIVAI) menggelar santunan kepada 1600 anak yatim pada (19/3/2018) lalu. Santunan ini pun, kini menjadi fokus penyelidikan penyelidikan oleh Sentral Penegak Hukum Terpadu (sentral Gakkumdu).

Koordinatir Devisi (Koordiv) Hukum Panwas Kota Ternate, Asrul Tampilang saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, kasus dugaan bagi-bagi uang dalam bentuk santunan anak yatim di kediaman Cagub gubernur AHM sedang diselidiki Gakkumdu Kota Ternate.

“Memang kemarin Gakkumdu sudah melakukan panggilan klarifikasi sebanyak 3 kali kepada orang-orang yang menerima bantuan dalam bentuk santunan. Ternyata yang menerima santunan itu masih ada orang-orang dewasa, ada beberapa oknum yang beralamat di Tafure itu sampai saat ini diundang tidak pernah hadir,”ungkap Asrul, Senin (02/04/2018) kemarin.

Ia mengaku, untuk memastikan kebenaran informasi adanya orang dewasa, Gakkumdu tengah menunggu surat perintah penugasan dari Ketua Panwas Kota Ternate, Rusly Saraha untuk dilakukan penyelidikan dengan menggelar pemeriksaan di tempat kepada ketiga orang penerima santunan tersebut yang beralamat di kelurahan Tafure, kecamatan Ternate Utara. “Artinya selain meminta data di kantor, juga mendatangi dimana rumah warga atau rumah yang bersangkutan menerima bantuan saat santunan anak yatim itu. Alasan mereka (paslon) itu hanya panti asuhan dan anak yatim,”ucap Asrul.

Gakkumdu menjadwalkan, lanjut dia, pada hari ini Selasa (03/04/2018) akan melakukan rapat internal dalam rangka mengagendakan jadwal penyelidikan langsung di rumah tiga orang tersebut. “Jadi kita tinggal menunggu surat perintah tugas dari Ketua Panwaslu,”ujarnya.

Menurutnya, dugaan keterlibatan mereka ini didapat dari hasil klarifikasi saksi-saksi yang diperiksa sebelumnya. Artinya lanjut dia, pelaku lain telah memberikan informasi mengenai dugaan keterlibatan mereka menerima uang santunan itu.

“Bahkan yang memberikan informasi itu adalah yang memberikan santunan itu, bahwa ada nama orang dewasa yang menerima uang, yang jelas tidak akan ada surat yang ke empat kali, tinggal solusi terakhirnya. Penyidik akan mendatangi rumah para oknum yang menerima santunan orang dewasa, tetap itu diselidiki, kalau memang terdapat ada fakta dan memang benar yang bersangkutan maka proses itu tetap dilanjutkan,”terang dia.

Hingga kini, Dia Asrul menambahkan, dugaan kasus tersebut belum dapat dilanjutkan prosesnya karena terkendala fakta yang hendak ditelusuri agar membuat terang dugaan pidananya.

“Belum ada bukti yang kuat untuk dimintai keterangan. Sampai saat ini kurang lebih ada 7 orang yang dimintai klarifikasi, nampaknya mereka memberikan informasi secara tertutup, banyak yang memberikan informasi itu tidak secara terbuka tetapi tertutup, makanya Gakkumdu berusaha melakukan penyelidikan dari kepolisian itu untuk menggali informasi itu, agar bisa mendapatkan data yang lebih jelas,”pintanya seraya mengatakan sudah ada yang bersedia menjadi saksi, tinggal sekarang ini kita gali informasi yang belum kita dapat itu.

spot_imgspot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

ADVERTORIAL

ASPIRASI NEWS

ASPIRASI TERNATE

POLMAS

NASIONAL

DUNIA