Pilkada dan Proyek Wartawan

Catata Ringan Wartawan Muda Malut Post (Jawa Post Group)
IKRAM SALIM

Di persimpangan kota, duduk sambil menikmati kopi. Coretan ini terinspirasi dari celoteh seorang sahabat.

Bang, demikian panggilan rekan mudaku untukku, duduk disamping dengan gudget di tangan. Sontak, dia lantas bertanya tanpa menoleh.
Enak e, jadi wartawan? Tanya pria muda yang parasnya kalah tampan denganku. Heheheh.

Diam sejenak, lalu aku menjawab, kadang enak kadang tidak, tapi setiap profesi punya konsekuensi, “jawabku diplomatis, lantas diam menunggu respon.

Dekat dengan siapa saja, pejabat negara sampai semua lini, “lanjutnya.
Pernyataan keduanya nyaris buatku besar kepala, agar tidak terlihat congkak aku hanya tertawa kecil lantas sibuk membaca chating WhatsApp (WA) di group tetangga. Tapi, suasana seketika berubah pada pertanyaan ketiganya. “Kenapa sekarang banyak wartawan yang terang-terangan memosting foto kandidat, bahkan membela mati-matian kandidat kesayangannya itu?

Kaget, terkejut lebih pas, 5 menit aku diam sambil menyusun jawaban dalam hati. Sebelum ku jawab, sebaiknya aku balik bertanya, “pikirku.
Tahu darimana? Singkat, penasaran menunggu respon lelaki muda yang mulai kambuh mulu embernya. “Me, di medsos banyak tuh, terutama di FB tuh, “katanya lagi.

Belum ku jawab sudah ada pertanyaan seperti bergelombang dan makin serius. “Bukannya wartawan harus netral?, “lanjutnya, raut wajahnya mulai penasaran menunggu orasiku. Tanpa pikir panjang lagi dan tampaknya dia sudah sedikit banyak tahu tentang wartawan.

“Sodara, mereka itu bukan wartawan, mereka itu politisi bau kencur, cari panggung, cari muka dan satu lagi goblok, “jawabku sedikit emosi, hehehe.

Aku tak bisa pungkiri 5 menit dalam otakku sedari tadi berfikir hanya itu kalimat yang disodorkan dari kepalaku, maaf bukan otakku. Ya, itu jawaban yang tidak pantas tapi setidaknya telah menguras tenagaku untuk seimbangkan dan nyatanya tidak seimbang.

Dia diam, melongo, bingung dan setengah tertawa. Raut penasarannya masih ingin melanjutkan tapi aku buru-buru memotong dengan mengajaknya makan.

Biar ku jawab dulu ending cerita itu dengan jawaban yang juga membuat mulutku makin riang dan ringan tadi. Dan aku temukan jawabannya. Singkat saja.

Memilih, menolak adalah hak seseorang tanpa acuan hukum pun itu sudah abstrak, termasuk memilih pekerjaan.

Wartawan itu lebih tepatnya profesi. Profesi adalah kata bijak yang meneguhkan pendirian agar tekun, bijak, tangkas dan cerdas. Profesional demikian akronim dari profesi itu.

Wartawan adalah golongan orang-orang profesional yang menulis dengan Tabayyun, mengedepankan etika, menjaga netralitas serta lebih penting menyambung lidah rakyat.

Di tengah krisis moral parlemen saat ini dan wakil rakyat yang sibuk meneguhkan tapuknya dengan membangun imunitas melalui UU MD3, DPR seakan mengklaim mereka adalah rajanya rakyat, maka wartawan tepatnya juru selamat.

Tampak berlebihan? Sebab, jika tidak berlebihan tugas wartawan sejatinya pernah diemban Malaikat dan Nabi, dan tidak mungkin keduanya berbohong menyampaikan pesan Allah. Menangis melihat rakyat jelata, marah melihat martabat rakyat kecil di injak dan lantang menentang ketidakadilan.

Ini berbanding balik, apalagi di tengah momentum politik seperti ini. Maka, tak salah jika saya tidak berani menyebut mereka bukan wartawan. Sekali lagi memilih adalah hak, namun tidak harus mengabaikan kewajiban, apalagi menggadaikan profesi.

Wartawan ialah profesi yang disanjung, berdiri sejajar diatas tapuk konstitusi negara bahkan dunia. Bertugas membuka mata pemimpin bukan membela penguasa.

Tolong jangan lagi buat pembaca mudah mengatakan berita itu hoax. Sebab, hoax itu hanya modifikasi dari kata FOYA.

Wartawan bukan polusi tapi SOLUSI#CATAT!

spot_imgspot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

ADVERTORIAL

ASPIRASI NEWS

ASPIRASI TERNATE

POLMAS

NASIONAL

DUNIA