PAD Sektor Perikanan Dipastikan Bocor

Reporter : Ardian Sangaji

 

MABA, AM.comPendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perikanan di Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) dipastikan masih akan bocor dalam tahun anggaran 2018 nanti. Pasalnya, usulan pembangunan pos pengawasan terintegrasi di Desa Sondo Sondo, Kecamatan Wasile Selatan yang berfungsi untuk mengontrol arus pengiriman hasil perikanan keluar dari wilayah Haltim, tidak terakomodir masuk ke APBD 2018.

Padahal adanya pos tersebut dinilai strategis dalam menggenjot PAD melalui retribusi surat keterangan muatan ikan (SKMI). Sebagaimana telah diatur pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Izin Usaha Perikanan. Di dalam perda ini retribusi SKMI untuk ikan teri jenis super dikenakan Rp 1.875 per kilogram, teri sedang Rp 1.500 per kilogram, teri besar Rp 1.350 per kilogram, kemudian berlaku juga pada hasil perikanan jenis lainnya dengan nominal retribusi yang berbeda.

Sementara, retribusi tersebut selama ini tidak tergarap maksimal akibat kurangnya kesadaran pelaku usaha. Seperti halnya tengkulak ikan teri bernama Deni Tendean yang selama ini membeli ratusan ton ikan teri di Haltim dan dibawa ke Ternate, namun tidak mau menunaikan kewajibannya membayar retribusi.

“Tanpa pos pengawas, PAD dipastikan bocor, bukan bocor lagi tapi banjir, kran itu terlalu dibebas keluar, kemudian pengusaha itu tidak sadar,” ungkap Asmar Hi. Daud, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Haltim, Minggu (26/11/2017).

Menurut Asmar, potensi PAD dari retribusi ini dalam sehari paling sedikit Rp 3 juta. Namun jika tanpa ada upaya ‘jemput bola’ seperti melalui pos pengawasan terintegrasi, maka jangan harap PAD yang satu ini bisa terserap masuk ke kas daerah. “Kita kehilangan sumber daya, kita kehilangan data, kita tidak dapat mengontrol sumber daya kita, kemudian kita tidak punya brand, karena di Maluku Utara kita punya ikan teri dan cumi terbanyak selain ikan pelagis, tuna dan cakalang,” ungkap Asmar.

Sambungnya, usulan pembangunan pos pengawasan terintegrasi sengaja difokuskan di wilayah Sondo Sondo karena pengiriman hasil perikanan yang hendak dibawa keluar Haltim seringkali sengaja dilakukan oleh pelaku usaha saat tengah malam. “Jadi nelayan paling tertib ini hanya di Buli dan Maba, sementara ikan tuna di utara juga tertib, setiap kali pengiriman mereka tetap datang lapor, karena mereka tahu barang itu keluar kan harus ada SKMI,” tandasnya. (azk)

spot_imgspot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

ADVERTORIAL

ASPIRASI NEWS

ASPIRASI TERNATE

POLMAS

NASIONAL

DUNIA