Mer-de-kah ???

Risno Ong Rasai

Dosen Falkutas Ilmu Komunikasi Universitas Bumi Hijrah Maluku Utara

 

Terkenang dan terpujilah leluhur kita yang telah datang pada masanya dan memilih berjuang, sebut saja  Nuku, Khairun, Babullah dan Syaifuddin empat sultan yang menoreh tinta emas dalam sejarah perlawanan terhadap bangsa asing, serta sederat nama seperti Kaicil Rade, Banau, Lisapali, Kapita Tahane dan pejuang lainnya yang terus dikenang atas perjuangan dalam membela tanah ini dari penjajah yang mencoba mengerogoti dan menindas rakyat Maloku Kie Raha. Perjuangan dengan mempertaruhkan nyawa demi harkat yang mesti dijaga, walau parang dan salawaku harus berduel dengan mortil dan samurai dari tamu asing bermata biru. Tapi perjuangan ini tak boleh menyerah, apalagi kalah.

72 tahun sudah Indonesia merdeka, usia yang cukup sepu untuk tak lagi merangkak apalagi merengek, kita bernegara karena sengsara ditindas tentara yang suka memenjara, maka gelombang perlawanan yang muncul dari Aceh sejak zaman Cut nyak Dien terus merambat ke Jawa yang didalangi oleh Pangeran Dipanegoro, terus menggema sampai pada Pattimura di Ambon dan terus beresonansi sampai pada Zainal Abidin Syah dalam pembebasan Irian Barat. Begitulah sejarah dalam cerita perlawanan, maka tak boleh lagi merengek dan bersedih, karena kurang lebih 3,5 abad sudah cukup untuk membuat sebuah waduk darah dan air mata yang keluar dari derita rakyat Indonesia.

Dan setelah 72 tahun merdeka,  darah dan air mata masih juga tak kunjung surut, kita didoktrin untuk jangan tanyakan apa yang negara berikan tapi tanyakan apa yang kita berikan pada negara ini, lama lama doktrin mulai terasa menyebalkan saat arti kesejahteraan tak kunjung kita rasakan, faktanya kesejahteraan itu hanya milik segelintir orang dalam lingkar kekuasaan . Dan bahkan kata kesejahteraan sangat jauh dari kami orang timur yang terlampau dari ibu kota negara.

Kekayaan alam kami yang melimpah, bukan lagi menjadi berkah, melainkan kutukan yang selalu membuat luka, perusahan tambang yang dengan rakus memperkosa alam orang timur, membawa emas, nikel, ikan hingga kayu tak kunjung memberi arti sejahtera, tengok saja betapa terbelakangnya pembangunan Halmahera jika dibandingkan dengan kekayaan perut buminya yang memenuhi kapal kapal asing.

Bahkan penguasanya gemar mengumbar izin sehingga siapa saja asal punya modal bisa datang merobek robek alam, tanpa berfikir bagaimana cara berdikari mengelola tambang sendiri, sehinggga kita tidak perlu melacurkan diri seperti sederet nama 27 IUP di tambang Maluku Utara. Kita juga tidak perlu takut beribadah seperti karyawan PT MSP milik China melarang umat beragama beribadah.

Ketahuilah, kami orang timur sejatinya tidak butuh perusahan tambang, dahulu tanah kami subur, ikan kami melimpah, dan kami yang hanya 1 juta lebih penduduk Maluku Utara tidak memerlukan tambang, orang Taliabu tidak butuh tambang karena mereka bisa sejahtera dengan berpuluh ton hasil pala cengkih, orang Haltim bisa sejahtera dengan teluk Buli yang kaya ikan, dan seluruh orang Halmahera bisa hidup dari pohon sagu dan kasbi yang lama mereka makan sejak dulu kala, maka disinilah, kami orang timur wajib bertanya, kemerdekaan yang dulu diterikan oleh Ir Soekarno dan Muhammad Hatta  adalah untuk siapa ?.

Mengutip apa yang sering disampikan oleh Sultan Tidore, Husain Syah. “Jika saat ini orang sering berteriak NKRI harga mati, maka kami di Maluku Utara telah mati berulang kali untuk NKRI ini, lalu kami mendapat apa ?”. Pernyataan ini harusnya menjadi renungan bagi para pengambil kebijakan untuk lebih memperlakukan kami atas apa yang telah kami orang timur berikan untuk negeri ini.

Zaman memang telah berubah, tapi kami masih terus terjajah, tanah ini lebih dari cukup untuk memberikan kesejahteraan bagi penduduk yang ada didalamnya, tapi kenapa kami tidak sejahtera ?. sepatutnya kami tidak perlu menengadahkan tangan meminta diberikan Otonomi Khusus, dengan apa yang kami sumbangkan untuk NKRI, tetapi penguasa harus tahu diri untuk  memberikan apa yang harus diberikan. Bukan kami yang jadi peminta minta di pojok istana yang megah.

Dirgahayu kita menyisahkan pekerjaan rumah yang panjang, bukan sekedar bereuforia dengan baris-berbaris, panjat pinang atau lompat karung yang mewarnai acara tiap tujuhbelasan kita, melainkan memberikan rasa keadilan agar seantero penduduk negeri merasa bahagia di negeri ini,  tidak saling mencurigai, tidak saling menghujat di media sosial.

Presiden Ir Soerkarno lebih menegaskannya lagi dalam konsep trisaktinya bahwa bangsa Indonesia harus memiliki kemandirian ekonomi, kedulatan bangsa dan memiliki krakter, tiga formula inilah yang harus dijalankan demi tegaknya kepala bangsa dihadapan dunia. Tanpa ada kemandirian ekonomi negeri ini hanya akan menjadi benalu dan buruh, meski kekayaan alam melimpah ruah namun itu semuanya lebih dinikmati oleh kapitalis asing dan rakyat hanya mendapat ampasnya saja.

Kita merdeka tapi belum sepenuhnya berdaulat, kita belum berdaulat dalam bidang ekonomi, kita belum berdaulat dalam pendidikan dan kita belum berdaulat dalam politik, karena semua kedaulatan itu masih di bayangi oleh neo imperialis kapital, sungguh  tanpa ada kedaulatan yang ansih kita hanya menjadi bangsa yang rendahan.

Dan tanpa ada krakter  yang menjadi jati diri bangsa, kita tak ubahnya bangsa pengikut. Tengok saja generasi kita yang mengekor tanpa malu pada budaya bangsa lain, k-pop lebih disukai daripada togal ataupun dana dana, krisis identitas telah melanda, saat bahasa Indonesia mulai dicampakan, budaya Indonesia dikerdilkan dan pekerti kita menjadi tabuh dan dianggap kolot, lalu sesuatu yang didapat dari luar disebut moderen dan lebih baik dari punya sendiri. Kita terjajah secara budaya.

Jika saja para pejuang melihat kondisi Indonesia kini maka mereka pasti akan menangis tiada henti, karena perjuangan dan pengorbanan mereka demi Indonesia yang merdeka dan berjaya telah dikhianati. Namun estafet perjuangan yang mesti terus dibawa demi menyongsong negeri Indonesia yang lebih baik lagi, singsingkan lengan baju, bakar gelora otimisme kita, dan yakinlah bahwa keterbelakangan ini bisa kita rubah menjadi kemajuan yang lebih berjaya lagi daripada masa jaya seperti kegemilangan Majapahit dan Sriwijaya yang menjadi negara adikuasa dari tanah Jawa menguasai dunia. Karena nenek moyang kita bangsa petarung maka kita tidak boleh lelah apalagi kalah dalam melunasi setiap janji kemerdekaan.

Buktikan kepada Nuku, Khairun, Babulah dan Syaifuddin yang telah datang dan berbuat pada masanya, bahwa kita yang datang di masa setelah mereka juga mampu berbuat dan menorehkan tinta emas yang mengahrumkan nama bangsa, lalu biarkan sang garuda terbang gagah perkasa di langit biru dan memekikan suara yang menggelegar semesta, generasi Indonesia pasti bisa. Kita Indonesia MERDEKA… (***)

spot_imgspot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

ADVERTORIAL

ASPIRASI NEWS

ASPIRASI TERNATE

POLMAS

NASIONAL

DUNIA